Welcome!!

Annyeong fanfict lovers!!

Blog ini aku buat khusus Fanfict dari idola-idola kita sampai anime juga. Blog ini lagi masa debut jadi postingannya belum terlalu banyak. Tapi authors bakal bikin banyak ff yang keren2 deh!

mohon kerjasamanya buat kemajuan blog ini. And don't forget to leave comment(s) after read this blog!!

thanks... (_ _)

Lists

FF|I'm Not Her|我不是她|

Genre: romance, Chapter 1a-2b
status: in progress

FF/Don't say goodbye/

genre: PG15/Romance teenager/straight/Chapter 1-10(end)
status: complete

FF/Don't say goodbye/Bonus Chapter

genre: PG15/Romance teenager/straight

FanFict/Utakatta Hanabi/Anime Naruto/1shoot

genre : romance, 1 shoot

FanFict DBSK/Together/comedy/

genre: comedy/teenager/friendship Chapt1
status: in progress

Fanfic || more than a teacher || 1shoot part1-2(end)

genre: teenager/romance

The murderer is my secret admirer

Rat : NC 17( violence)/one shoot/straight yoosu

goodbye my lover


cast :yunjae and others
rat :NC 17
mention : mpreg,angst,violence, 1shoot

Let U Go

pairing: yunjae n other
Rating: PG13/Yaoi
Genre: Romance, angst, 1shoot

dreaming in ‘bolong’ afternoon

special fanfict
status: complete

SAME but DIFFERENT

special fanfic
status: complete

You only love my love | Straight | DB5K

genre: T / Romance Hurt
status: in progress
Tampilkan postingan dengan label 1shoot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1shoot. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Mei 2012

Fanfic | THE MEANING | DBSK and author | 1shoot


Title       : The Meaning..
Casts     : W-Lanh Cassieast (author) as Shim Jiwoo
                  DBSK member
Genre     :  Family, personal life
Rated     : K+
Length   : 1SHOOT

Summary: ketika aku sedang berada dalam masa genting sebagai seorang anak manusia biasa, aku bertemu dengan mereka yang lebih mengerti arti dari kata 'itu'. dan seseorang pun merubah jalan pikiranku.


Hening..
Sore ini rumahku bagaikan tak berpenghuni. Biasanya di jam segini aku sibuk mondar-mandir sambil berteriak-teriak “lapar! Apa tidak ada makanan?” dan ramai dengan umma yang mengomel atau keponakanku yang berteriak-teriak bermain bersama teman-temannya.  Sekarang, itu semua tak terdengar keberadaannya, bahkan aku pun enggan keluar dari kamar.

Sedari tadi aku hanya berbaring di atas ranjang sempitku sembari memegangi ponselku. Dering sms masuk pun berkali-kali terdengar dan dengan cepat aku membalas semuanya. Jujur saja, jarang-jarang aku melakukan hal ini.
Kepalaku kini terasa pusing. Ya, berbaring lama tanpa tidur itu membuatku sakit kepala. Kulihat jam di ponselku, sudah pukul 6 sore. Aku pun berusaha membangkitkan tubuhku dan berjalan gontai meninggalkan kamar. Kulihat seisi rumah yang berantakan dan dibiarkan begitu saja. Terbesit di pikiranku, seperti habis perang dunia saja. Padahal memang benar. Beberapa jam lalu ada pertangkaran hebat disini dan aku adalah tokoh utamanya.

Kulanjutkan langkahku menuju kamar mandi setelah mengambil handuk di jemuran. Baiklah saatnya melepas semua penatku di ruangan kecil ini. Sedikit penyegaran tubuh mungkin akan menyegarkan otakku juga.

----------- The Meaning ---------------

Selesai berpakaian, aku berjalan menuju dapur, mencari sesuatu yang bisa dimakan disana. Dan hasilnya..nihil. ahh aku tak bisa menahan perut keronconganku sejak tadi siang, ditambah lagi rasanya berlama-lama dirumah ini membuatku semakin penat. Kupikir aku butuh udara luar sejenak.

Tanpa berpikir panjang, aku mengambil sepedaku. Kendaraan yang hanya milikku satu-satunya. Mereka-mereka yang dirumah ini tidak memperbolehkanku memakai motor mereka, padahal teman-teman sebayaku sudah dibolehkan memakai sepeda motor bahkan memilikinya sendiri. Sering aku merasa iri pada mereka yang selalu dipercaya oleh orang tuanya. Sedangkan aku? Seperti kuda yang dikekang. Pergi kemana saja selalu diawasi, boro-boro naik motor sendiri, berboncengan dengan teman saja terkadang tidak boleh, disuruh naik angkutan umum tapi jarang diberi tambahan uang saku. Entahlah apa mau mereka, selama ini aku hanya menurut karena aku tak tahu harus menyangkal mereka dengan kata-kata apa. Ya, mereka tak pernah mau mengerti keadaanku atau setidaknya memberi rasa percaya padaku. Umurku sudah 15 tahun dan jelas aku muak diperlakukan seperti anak 5 tahun!

Baiklah lupakan..

Aku mengambil kunci gembok yang digantung di tembok dekat bath tub, dan melangkah keluar rumah tanpa berpamitan. Setelah kupastikan pagar tergembok dengan aman, aku langsung pergi mengayuh sepedaku ke arah yang tidak pasti. Menyusuri jalan-jalan sempit dan ramai anak-anak bermain bola. Melihat wajah mereka yang tertawa lebar itu membuatku iri.

“melihatmu seharian dirumah membuat kepalaku pusing, Jiwoo!”
Aku hanya diam.
“kau menganggarkan otak pintar dan prestasimu itu supaya kau bisa seenaknya dirumah ini, hah?!”
Sekali lagi aku hanya diam.
“sungguh, aku benci punya adik sepertimu! Kau hanya menyusahkan saja! Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kau sadar! Kau dengar Jiwoo?!!”
BRAKK!!
“APA MAU KALIAN HAH?!!”

Sesak seketika menyeruak di dadaku. Pertengkaran itu masih saja terngiang di kepalaku. Tenang.. bukan saatnya mengingat hal itu. Baiklah, kini aku memfokuskan pikiranku ke jalanan. Tak terasa kini aku sudah sampai di pinggir kota Seoul. Lampu-lampu jalan dan toko-toko sudah mulai meramaikan jalan. Senja merah juga perlahan menjadi abu-abu. Hari sudah mulai gelap dan dingin, aish kenapa aku tidak membawa jaketku?

Aku pun menghampiri kotak penjual minuman otomatis dan membeli sekaleng cappuccino hangat disitu. Aku memparkirkan sepedaku dan duduk di depan sebuah toko roti,  dan melihat orang-orang berlalu lalang sambil menikmati minumanku.

“Shim Jiwoo?” sapa seseorang dibelakangku. Aku pun memutar kepalaku.
“Changmin oppa!” sapaku kembali.
“sedang apa disini? sendirian saja?” tanyanya.
“tidak ada. Ya aku sendirian saja. Oppa dari toko roti ini?” jawabku dan kembali bertanya.
“nde. Kyuhyun dan Minho menyuruhku membeli roti, aish.. kalau saja mereka yang kalah suit pasti kusuruh beli roti di Gwangju sana” ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya. Lucu sekali. Si Evil sedang dikerjai teman-temannya. Aku hanya tertawa pelan mendengarkan curahan hatinya.

“dan kau? Kenapa tumben sekali berkeliaran disini sendirian? Apalagi ini sudah malam”
“aku hanya ingin menyegarkan otakku. Sekali-sekali juga tidak apa-apa kan?” aku tersenyum tipis.
“ada masalah dirumah ya? Tampaknya masalah yang rumit..” tanyanya sembari memperhatikan wajahku yang agak lesu.
“begitulah..” jawabku seadanya. Ia pun mengacak-acak kepalaku yang ditutupi topi kupluk putih.
“itu biasa.. hal yang lumrah dalam sebuah keluarga. Kau pasti bisa menyelesaikannya..” ujarnya sambil tersenyum di depan wajahku.
“apakah itu semudah yang kudengar?” aku mendongak dan menatap Changmin dalam. Mengharapkan sebuah jawaban yang cukup meyakinkan. Ia pun tertunduk tanpa menghapuskan senyumnya.
“kurasa tidak begitu juga..”
“. . .”
“tapi jika kau mendengar nuranimu, maka kau akan tau apa yang harus kau lakukan dan apa yang benar dan salah. Percayalah pada dirimu sendiri” ujarnya. Aku terpaku sejenak sambil mencerna kata-katanya.
“Hm! Gomawo yo Changmin oppa” anggukku sambil tersenyum cerah.
“baiklah.. aku harus pulang sekarang, Kyuhyun dan Minho bisa mengomel kalau aku telat membawa pesanan mereka. Hati-hati ya, Jiwoo” Changmin pun beranjak meninggalkanku sembari melambai pelan.
“nde.. oppa juga!”
Aku membalas lambaiannya sembari tersenyum. Setelah sosoknya hilang di mataku, aku langsung meneguk habis minuman di tanganku lalu mengambil sepeda yang terparkir tak jauh dariku.

“selanjutnya kemana ya?” gumamku sambil tetap mengayuh.

Mataku menyusuri toko-toko dengan lampu-lampu yang berwarna-warni yang kulalui. Ada toko permen, boneka, dan baju anak-anak yang sangat lucu. Pemandangan ini membuat mataku tidak lagi terfokus ke jalanan, kakiku terus mengayuh sesuai nuraniku.

BRUG!

 Tanpa kusadari  sepedaku menabrak sesuatu dan bunyinya terdengar keras sekali. Spontan aku menarik rem ditanganku
“duh!! A, appo! Hey! Kalau jalan lihat-lihat!” pekik suara nyaring dibawah sana. Aku melongoh kebawah, astaga! Aku menabrak seekor lumba-lumba! Aku pun langsung turun dari sepeda untuk menolongnya.
“Ju,Junsu oppa!! Mi,mianhae!” ujarku terbata melihat posisi terjatuhnya yang tak elit ini. Melihatnya aku berusaha mati-matian menahan tawaku.
“aish.. ternyata kau Jiwoo” ujarnya dengan nada lega.
“nde.. jeongmal mianhae. Apa ada yang terluka?” tanyaku khawatir.
“anniya.. hanya saja, buttku..” Junsu oppa tampak mengelus-elus bokongnya dengan ekspresi kesakitan.
“Omo! Aku telah melukai sesuatu yang berharga dan kebanggan seorang Kim Junsu! Oppa, bagaimana aku menggantinya?” ujarku dengan nada sok khawatir. Melihat ekspresinya sekarang ingin membuatku tertawa terbahak-bahak.
“aish! Ini tidak ada gantinya tau! Sudahlah! Lagian tidak luka kok”
Aku pun membantunya berdiri. Ia menepuk-nepuk celananya agar pasir-pasir jalanan itu bersih darinya.

“sedang apa disekitar sini oppa?” tanyaku.
“aku? A,anni.. aku dari.. tidak dari mana-mana! Kau sendiri?” tanyanya balik.
“tidak ada.. aku hanya sedang butuh udara segar” jawabku tersenyum kecil.
“udara segar bukan malam-malam seperti ini..lagian sepertinya tumben sekali..” Junsu tampak memandangiku dengan tatapan interogasi. Kini kami melangkah bersamaan. Aku menggiring sepeda dan dia berjalan disampingku.
“aku sedang bosan dirumah..” jawabku sekenanya. Dia tertawa renyah.
“biar kutebak. Kau sedang ada masalah, makanya kau jalan-jalan keluar kan?”
“bingo! Yah.. masalah dengan keluargaku. Apa hal seperti itu disebut lumrah?”
Junsu tersenyum kali ini.
“tentu saja! Ibaratkan sebuah bumbu. Di dalam sebuah keluarga pasti ada pertengkaran, kau tidak perlu terlalu cemas, hanya jalani saja dan semua akan kembali seperti biasanya”
Aku menoleh kearahnya.
“kembali seperti biasa?”
“hm! Keluarga bukanlah orang lain dalam hidup kita. Sikap saling mengerti sudah tertanam satu sama lain. Jadi, jika ada sebuah masalah aku rasa tidak serumit dengan masalah bersama teman-temanmu misalnya.. kau mengerti maksudku kan?”
Aku tertunduk sejenak “jadi.. semua akan baik-baik saja?”
“nde, yang kau butuhkan adalah sikap memaafkan atau keberanian untuk meminta maaf. Itulah kunci utamanya”
Sekali lagi aku tertegun.
“arasseo!”
Junsu pun kembali tersenyum.

Tiba-tiba terdengar derap langkah yang sangat cepat menuju kearah kami.
“hey! Kim Junsu!!! Kemari kau! Kau harus membayar bill ini!” seru seseorang yang rupanya Eunhyuk itu. Junsu yang kaget spontan melihat ke belakang.
“sudah kubilang aku tak punya uang untuk mentraktirmu, hyuk-ah!!” ujarnya sebelum kabur dari posisinya.
“ya!! Jangan kabur kau!! Eh, annyeong Jiwoo-ah.. Hey! Tunggu!”mereka pun saling kejar-kejaran sedangkan aku mematung melihat tingkah konyol sepasang sahabat itu.
“ck..dasar!” aku terkekeh pelan sambil geleng-geleng kepala.

Kini aku kembali sendiri, kunaiki sepedaku dan kembali kukayuh sesukaku sampai tiba di dekat jembatan. Pemandangan kota seberang terlihat sangat indah dilihat dari sini. Lampu-lampu kota terpantul di air sungai yang tidak tenang itu. Aku pun turun dari sepeda dan memilih menikmati pemandangan ini lebih lama.

“ha..ha..HATCHIH!!” tiba-tiba saja seseorang mengagetkanku dengan bersinnya yang terdengar merdu itu (?).  Pandanganku memperhatikan orang ini. Mata besarnya tertunduk sedangkan tangannya sibuk memijit-mijit tombol ponselnya. Syal di lehernya menutupi sebagian wajah cantik dengan kulit pucatnya. Ah aku tau orang ini.

“Jaejoong oppa?” sapaku.
“nde? Ah, Jiwoo! Kau rupanya” kini wajah cantik untuk ukuran pria itu terlihat seutuhnya. Senyumnya tampak terukir jelas kearahku.
“sedang apa oppa disini?” tanyaku kesekian kalinya untuk setiap orang yang kutemui.
“umm.. sedang menunggu seseorang. Dan kau?”
“aku sedang menikmati pemandangan kota Seoul di malam hari” jawabku sambil melempar pandangan kearah sungai. Ia pun mengangguk pelan.

“ngomong-ngomong..siapa orang yang oppa tunggu?” tanyaku kemudian.
“ah..itu..” Jaejoong tampak menggaruk pipi pucatnya. Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan kami.
“yo! Joongie-ah..mian aku telat!”
“Yunho oppa!” ucapku setengah kaget.
“oh, Jiwoo! Kau disini juga rupanya!” ujar Yunho sambil menepuk pundakku.
“ah..sudah kuduga, ternyata orang yang ditunggu Jae oppa adalah Yunho oppa” kataku sambil menyikut tangan Jaejoong. Ah lucu sekali. jaejoong tampak malu-malu dan menyembunyikan wajahnya yang merona dibalik syal putih itu.
“Jae, apa kau marah? Mian tadi ada urusan yang harus kuselesaikan makanya aku telat” Yunho tampak memandangi wajah Jaejoong yang tersembunyi dibalik syalnya. Kemudian Jaejoong pun menyembulkan wajahnya keluar dan mem-pout-kan bibir cherrynya. Imut sekali!
“Yunho oppa! Jae oppa menunggumu sampai bersin-bersin lho!” ujarku kemudian.
“mwo! Jeongmal? Jae, gwaenchanakka?? Kau sakit ya?” paniknya sambil memegangi kening Jaejoong.
“anniya! Aku baik-baik saja!” seru Jaejoong sambil menepis tangan Yunho. Wow, baru kali ini aku melihat Jaejoong merajuk, dan terlihat sangat lucu!

“Joongie..”
“kau! Aku menunggumu sejak jam 7 tau! Kemana saja kau?!Dan lagi.. Kenapa tak mengangkat telponku hah? Sms juga tidak dibalas! Kau mau membuatku mati khawatir, huh?” oh God.. ternyata random facts DBSK yang selama ini kubaca benar. Omelan Jaejoong seperti ibu-ibu.

“bukan begitu! Aku harus menyelesaikan urusan-urusanku di studio! Jika aku meninggalkannya begitu saja, crew SM akan curiga. Aku sangat sibuk jadi tidak bisa membuka ponsel” jelas Yunho. Jaejoong masih saja cemberut.
“baiklah, kalau kau masih mau marah terserah saja. Aku tidak apa-apa..aku akui ini salahku..” Yunho tampak memandangi Jaejoong dengan memelas. Sedangkan aku masih tertegun melihat pemandangan di depan mataku saat ini. Aku seperti menonton drama saja.
“kau berkata jujur kan Yun?”
Yunho mengangguk mantap “percayalah padaku Boo..”
“aish! Jangan memanggilku seperti itu didepan orang lain!” tampak wajah Jaejoong memerah.
“wae? Kau tidak suka, Boo?” goda Yunho lagi.

Untuk kesekian kalinya aku bersyukur bisa melihat adegan momen  YunJae secara langsung seperti ini. Jarang-jarang aku melihat mereka selepas ini. Benar-benar couple yang membuat semua orang iri. Tapi.. sepertinya aku tak bisa lebih lama lagi disamping mereka.

“anu.. sepertinya aku harus pergi”
“ah, tidak mau ikut jalan-jalan dengan kami?” tawar Yunho. Ada-ada saja, masa aku disuruh ikut? Okelah, anggap saja itu basa-basi.
“anni, gomawo.. nanti aku malah mengganggu” ujarku sambil nyengir nakal.
“m,mwo?” seru keduanya bersamaan kemudian dilanjutkan dengan aksi salah tingkah.
“hahaha.. baiklah aku pergi dulu! Have a sweet night you both” kataku terakhir kali sambil mengerling nakal dan meraih sepedaku lalu mengayuhnya menjauh dari mereka.

“hihihih..” cekikikku yang membayangkan wajah YunJae sekarang.
Aku kembali focus ke jalanan. Sekarang kemana ya? Sudah jam 8.30 malam. Apa aku sebaiknya pulang saja? Baiklah, sebaiknya aku kembali sebelum orang-orang rumah menuduhku melarikan diri. Aku pun memutar sepedaku menuju arah aku berasal. Sesaat aku merasakan sepeda yang kukayuh perlahan semakin berat. pedal yang kukayuh semakin sulit berputar. Aku pun berhenti, dan melihat ke ban belakang.

“hyaa! Bocor!” teriakku spontan. Bagaimana ini? Ban sepedaku bocor, padahal perjalanan ke rumahku masih sangat jauh. Tiba-tiba aku merasakan tetes air jatuh di punggungku, tetesan-tetesan air itu pun semakin banyak turun dari langit.

“hwaaa! Hujan!!” buru-buru aku menggiring sepedaku ke pojok sebuah bangunan dan berteduh disana. Bajuku agak basah, membuatku semakin kedinginan. Sial sekali aku malam ini.
“bagaimana aku pulang nih?” gumamku sambil menggigil.
“siapa suruh keluar sendirian malam-malam!!” seru seseorang dibelakang. Suara husky ini.. tidak salah lagi!

“kau ini! Bisa-bisanya keluar seenaknya sendirian. Ini sudah malam tau! Tidak pakai jaket lagi. kau mau masuk angin?” omel orang ini bertubi-tubi.
“ya! Jangan mengomel seenaknya! Aku kan tidak tau kalau malam ini akan hujan!” omelku balik. Aku memandangnya kesal, datang tiba-tiba langsung mengomel seperti itu malah memperburuk suasana. Aku pun berpaling dan mengacuhkannya lalu merapatkan kedua tanganku agar hangat.
“ck.. “ decihnya sambil melepas jaket yang dipakainya “pakai ini!” suruhnya.
“nggak butuh..” responku dingin.
“nanti kau masuk angin”
“biar..”
Ia tampak memutar matanya. Sepertinya ia mulai kesal melihat responku yang dingin. Ia pun menyibakkan jaketnya dan melampirkannya dipundakku. Kaget, tentu saja. Aku merasakan pipiku menghangat seketika.
“dasar! Susah sekali diatur” gumamnya. Tanpa sengaja tanganku tersenggol olehnya.
“ya ampun! Tanganmu seperti mayat!” serunya sambil memegangi telapak tanganku.
“a,aku..”
“ayo! Kau harus segera dihangatkan!” Ia langsung menarik tanganku dan seketika wajahku semakin memanas saat itu juga. Ia membawaku kesebuah café yang tak jauh dari tempat kami. Letaknya juga tak berseberangan, jadi kami tidak perlu basah-basahan karena air hujan.

~
“hah~ hangatnya..” legaku setelah menyeruput segelas coklat panas. Gelas itu kugenggam erat-erat supaya hangatnya berpindah ke tanganku
“jadi..sedang apa kau malam-malam begini?” tanya pria bernama lengkap Park Yoochun di depanku ini.
“hanya jalan-jalan..” jawabku.
“apa terjadi sesuatu?” tanyanya lagi. pandangannya menerawang. Aku menghela nafas panjang.
“ya..”
“sesulit itukah masalahmu?”
“anni..aku hanya bosan dirumah dan ingin keluar untuk menyegarkan pikiranku”
Ia menyenderkan punggungnya di senderan kursi dan melipat kedua tangannya.
“masalah keluarga,eh?” tebaknya. Terkadang aku heran, kenapa setiap tebakkannya tentangku selalu benar? Apa dia memasang spy monitor di kamarku?
Aku pun mengangguk tanpa membalas tatapannya.
“dan kau memilih untuk keluar rumah sampai larut malam begini. Keluargamu pasti khawatir! Tindakanmu ini bisa saja membuat masalah semakin rumit”
“itu benar.. tapi bisakah oppa berhenti menyalahkanku? Aku keluar rumah hanya untuk menyegarkan pikiranku yang penat!”
“baiklah, tapi apa kau sudah menelpon mereka? Belum kan? Jiwoo, umurmu masih 15 tahun dan kau adalah anak bungsu di keluargamu! Apa kau tidak memikirkan perasaan mereka yang khawatir denganmu yang belum juga pulang sampai malam begini?!”
“sudah kubilang ini diluar dugaanku!!!”

Yoochun terdiam. Ia memandangiku dengan rasa khawatir sekaligus kecewa. Tanpa terasa air mataku terbendung dan menetes begitu saja. Aku tak kuasa lagi menatap wajahnya.
“gomawo sudah mengajakku kesini” aku bangkit dari posisi dudukku dan segera bergegas meninggalkannya.
“Jiwoo!”

Tanpa menoleh, aku terus memantapkan langkahku menuju luar café. Hujan sudah mereda, sebaiknya aku ambil sepedaku yang teronggok begitu saja di tempat tadi dan segera pulang seperti apa yang ia mau.
Tiba-tiba saja seseorang menarik tanganku dan membuat langkahku tercegah.
“tunggu!”
“ada apa lagi? bukankah oppa mau aku pulang?” ujarku ketus.
Yoochun menghela nafas panjang “ikut aku”
Lantas ia menarik lagi tanganku dan membawanya entah kemana.
“sakit! Lepaskan!” tepisku.
“bisakah kau sedikit mengurangi sikap keras kepalamu itu?!” ujarnya dengan nada tinggi, membuatku tersentak seketika.
Aku tertunduk, menyembunyikan wajahku darinya dan meneteskan bulir-bulir air mata dari sudut mataku.

“kenapa? Kenapa kalian semua terus saja menyalahkanku, memarahiku seperti ini?! Aku sudah muak!” teriakku sambil terisak.
“aku hanya butuh ketenangan! Pertengkaranku dengan keluargaku cukup membuatku stress. Aku sangat kacau hingga aku berpikir lebih baik aku meninggalkan mereka sementara dan melupakan semuanya. Tapi kau malah datang dan membuatku semakin kacau!”

“. . .”

“mian.. tapi aku tak bermaksud begitu..” suaranya terdengar semakin mendalam.
Aku masih saja terisak dan tak juga mengangkat kepalaku.
“Jiwoo dengar aku..”
“. . .”
“aku tak ingin masalahmu semakin besar. Keluargamu pasti khawatir dirumah”
“. . .”
“pulanglah, dan minta maaflah pada mereka”
Aku menggelang.
“ini semua bukan salahku” jawabku. Sesaat ia kembali menghembuskan nafas beratnya.
“dengar.. apapun itu masalahmu dan siapapun yang bersalah, tapi kau harus memaafkan dan minta maaf pada mereka”
Aku tak merespon apapun, tapi kini isakanku sudah mulai berkurang.
“Jiwoo, kau tau? Apa penyebab utama sebuah pertengkaran pada sebuah keluarga, sahabat, atau sepasang kekasih?”
Aku mencoba mencerna kata-katanya, dan kemudian menggeleng pelan. Ia memegang daguku dan mendongakkan wajahku dengan pelan. Ia menatapku dalam, mata beningnya menatap mataku yang memerah dan sembab karena air mata.

“cinta..” ujarnya.
Aku menatapnya heran. Ia menyadari kalau aku tak mengerti apa maksudnya.
“sebuah hubungan, baik itu keluarga, sahabat dan kekasih semua berdasarkan oleh cinta. Dan cinta juga di ekspresikan melalui ini.”
“. . .”
“kekhawatiran, mereka tak ingin kau berbuat sesuatu yang dapat merusak hubunganmu dengan mereka atau pun merusak dirimu sendiri. Lalu kau yang merasa tidak terima lantas memberontak dan berakhir pertengkaran, benar begitu kan?”
Aku tersentak, Yoochun oppa.. kenapa seakan kau tau apa masalahku?
“ketahuilah, mereka sangat menyayangimu, makanya tidak ingin kau berbuat salah. Tidak ada sebuah keluarga yang ingin mencelakakan anggotanya sendiri.”
Aku terus saja memandanginya.
“demikian juga dalam suatu hubungan cinta. Ada kecemburuan, perbedaan pendapat, ataupun kesalahpahaman. Tapi ketahuilah, semua itu berdasarkan cinta. Dan itu semua dapat terselesaikan jika saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan.”

Itu benar.. ya, aku kembali teringat momen YunJae beberapa saat yang lalu.

“keluargamu begini.. karena menyayangimu”
Aku kembali tertunduk dan tanpa terasa air mataku menetes lagi. tiba-tiba saja aku merasa bersalah, ya..aku sangat-sangat merasa bersalah.

“Jiwoo?”
“apa..apa mereka akan memaafkanku?” tanyaku sambil terisak. Sekejap kemudian aku merasakan dekapan hangatnya. Ia melingkarkan tangannya di badanku dan membiarkanku menangis di dada bidangnya. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan mengangkat wajahku.
“tentu..”
Air mataku terus saja menetes. Kalut bercampur deg-degan yang kurasakan sekarang.
“hey.. stop crying”
CHU~
Mwo?!
Aku terbelalak. Aku melihat matanya yang terpejam itu sangat-sangat dekat, dan lagi.. ia menempelkan bibirnya pada bibirku tanpa izin.
Tak lama kemudian ia melepaskan bibirnya dariku dan..smirking.

“CHUN OPPAAAA!!!”



END


woahaha.. gimana? datar ya?
ini Lan bikin pas lagi ada masalah beneran di keluarga hehe.. sedikit terbuka ga papa lah ya.
kok fanficnya straight terus? *nanya sama diri sendiri*
yah, sebenernya lan udah ada simpenan ff Yunjae bergenre horor, tapi..kendalanya, biasa.. MENTOK! alias ga ada hidayah buat ngelanjutinnya. padahal banyak sekali ide" fanfic yang berserakan di kepala saia.. hoho..
sudahlah.. cuma ini yang bisa saia sajikan. tunggu ff selanjutnya yaa~

Sabtu, 03 September 2011

Fanfic : Jung Family "sungkem" // K+ // Yunjae family // 1shoot

Title : Jung Family " Sungkem"
rate  : K+ / Humor/ gaje/ yaoi/ family
length: 1shoot
author: Lanh a.k.a Shim Jiwoo a.k.a Chunnie's wife
cast:
-Jung Yunho
-Jung Jaejoong
-Jung Changmin (17)
-Jung Jiwoo *author* (15)
-Park Yoochun (17)
-Kim Junsu (15)
 quotes: kekekeke.. author bawa epep 1shoot Yunjae family. paska lebaran. Just for fun!!

------
"lebaran tahun ini kok beda banget ya, rasanya yang ikutan sholat Id ga sebanyak tahun lalu" ujar Jaejoong.
"ya jelas lah umma, tahun lalu kan kita sholat di lapangan sepak bola, tahun ini kan di lapangan tenis meja" jelas Jiwoo, Jaejoong pun manggut manggut.
"Appa! nanti kita kerumah halmoni kan?" Changmin bertanya pada Yunho yang sedang menyetir.
"nng.. kayanya ngga deh, halmoni kan lagi liburan ke hawaii" jawab Yunho tanpa mengalihkan pandangannya sementara Changmin hanya ber-oh ria.
"mungkin halmoni udah dapet gebetan di hawaii ya, pulangnya aja lama banget" cerocos Jiwoo.
"iya, terus nanti pulang-pulang gendong anak. alias om baru kita" tambah Changmin. Yunho dan Jaejoong sweatdrop mendengarnya.

Tak lama kemudian mobil Jung family pun sudah tiba di depan pagar dan akhirnya mereka masuk kerumah pak RT.. eh, salah maksudnya dirumah mereka sendiri.
Seperti biasa setelah sholat Id keluarga Jung ini akan melakukan sungkeman yang sudah menjadi acara sakral di hari lebaran.
"sebentar ya, umma mau manasin opor dulu" ujar Jaejoong dari dapur.
Yunho mengiyakan sementara Jiwoo sedang berusaha menyeret Changmin yang udah kalap liat rendang diatas meja.

Akhirnya kedua anak itu terduduk di ruang TV.
"eh..eh.. oppa aku dikasih THR dong~" pinta Jiwoo sambil puppy eyes dan nyengir nunjukin giginya yang gendut-gendut.
"hah? THR darimana?! aku kan belum kerja ! tak de lah tuu.." jawab Changmin dan membuat Jiwoo manyun 20cm.
"aish! oppa pelit! perut aja digedein!" ambek Jiwoo.
"mwoyah! kau minta aja sama si Jidat!!" balas Changmin
"yah! jangan panggil my Chunnie Bunnie jidat!!!"
"jadi apa? jenong?"
"gyaaah dasar oppa bibir gentong, perut keriting!! eh salah, bibir keriting, perut gentong!!"
"apa kau bilang??!!!"
Dan akhirnya pertunjukkan akrobat pun dimulai.
Sementara itu..

"liat tuh Jae, ulah anak-anakmu.." ujar Yunho sambil menunjuk Changmin dan Jiwoo sedang jambak-jambakan dengan tak elitnya.
"yah! mereka itu kan hasil 'perbuatan'mu, Jung Yunho!" Jaejoong tak mau kalah.
"haahh.. aku kan cuma penghasil benih, kau cetakkannya" balas Yunho santai dan kata-kata ini tak patut didengar untuk anak 10 tahun kesamping (?)
"oh! jadi kau menyalahkanku?!" bentak Jaejoong sambil melemparkan deathglare berkali-kali.
"eh..bu,bukan! Joongie..maksudku.."
"sudah!! Pokoknya mulai hari ini kau ga kukasih jatah selama seminggu! Titik! ga pake koma!" vonis Jaejoong
"se, seminggu?! kau tega sekali Joongie!"
Perang dunia ke-3 pun dimulai.

Sementara itu diluar tampak 2 orang namja sedang menunggu sang pemilik rumah. Mereka yang tak lain tak bukan dan tak haram (?) adalah Yoochun dan Junsu.
"mana sih ni yang punya rumah?!" Junsu tampak tak sabaran
"ga tau, keracunan kali.." jawab Yoochun santai.
"duuh.. mana panas lagi! udah ah nyelonong aja!" Junsu pun menembus pagar kayak Casper. Hehe.. engga denk, kan pagernya ga digembok.

Yoochun dan Junsu tercengang saat membuka pintu rumah itu. Didalamnya tampak darah berceceran dimana-mana serta suara-suara menyeramkan menggema di seluruh sudut ruangan. Yoochun bergidik ngeri sedangkan Junsu nyante aja sambil ngupil.
Tiba-tiba sesosok kepala menyembul dari sudut tembok.
"GYAAAHH!! AYAM! AYAM!" kaget keduanya.
"eh? Chunnie oppa sama Jun-chan udah dateng! kok ga bilang-bilang?" seru kepala yang rupanya Jiwoo itu.
Yoochun dan Junsu merasa sudah terkecoh dan menyesal mengeluarkan latahan tak elit milik idolanya Junsu *Ruben Onsu*

Cairan merah itu bukan darah, tapi sirup marjan yang baru dibeli Changmin n botolnya bocor jadi ga sempet nampung. Dan suara-suara menyeramkan tadi bukan hantu, melainkan Yunho yang lagi kerokan.

"kalian kemana aja sih dipanggil ga nyaut-nyaut?" kesal Junsu. Seluruh tuan rumah hanya menjawab dengan cengiran busuk ---> *ya oloh author kasar banget*
"eh, betewe eniwe be'emwe jual cakwe , udah pada sungkem-sungkeman belom?" tanya Yoochun. Seluruh tuan rumah kembali nyengir sambil geleng-geleng. Yoochun sweatdropped.

"yauda deh, mumpung ada kita berdua nih. kita mule aja nyok sungkem-sungkemannya!" ajak Junsu disetujui oleh Yoochun. Sedangkan para tuan rumah hanya ngangguk-ngangguk pelan.

Kini YunJae sudah duduk bak di singgasana sedangkan keempat bocah ingusan itu berbaris kaya ngantri sembako *author dilempar kolor*. Dimulai dari Changmin, si putra sulung keluarga Jung yang sungkeman sama ortunya.

"hiks.. umma~ maapin Mimin yah. Mimin sering nyomotin kue lebaran sama rawon sepanci.. hiks! sroot~" ujar Changmin sambil nyeruput ingusnya. Jae agak kaget awalnya, tapi hal itu sudah ia duga.
"iya umma maapin.." Jaejoong mengobok (?) rambut tebal Changmin.
"appa~ Mimin minta maap karena bikin oppa nyaris bangkrut~ hiks!" lanjut Changmin sambil nyalamin Yunho.
"iya min.. makanya kalo makan jangan banyak-banyak yah" ujar Yunho.

Selanjutnya si bungsu Jiwoo menyalami ummpanya.
"umma.. appa.. Jiwoo minta maap selama ini udah ngintipin n ngerekam kalian lagi ngeNC~hiks.." YunJae sontak kaget.
"APAKH!!! terus videonya kamu kemanain?!" tanya mereka frustasi.
"dimasukin ke dipidi terus dijual.. peminatnya banyak looh" jawab Jiwoo polos membuat Jae nyaris pingsan. Tapi Yunjae pun memaafkan lantaran maklum, keke..

Lalu tibalah saatnya Yoochun dan Junsu, meskipun mereka outsiders tapi mereka juga turut sungkeman sama Yunjae.
"ahjumma..ahjusshi.. minta maaf yah kalo kami ada salah. Tapi kayanya gaada deh, kita kan anak baek-baek.." keduanya pun mendapat jitakan empuk dari Yunjae.
Kemudian kakak-adik itu pun saling berhadapan.
"oppa~~" Jiwoo tampak berkaca-kaca
"Jiwoo-ya.. hiks! sroott~" sahut Changmin sambil ngelap ingus di gorden. Mereka pun berpelukan kaya teletabis.

"chunnie-a.. maaf selama ini aku sering ngejek jidatmu kaya' lapangan golf~" Changmin mengakui.
"iya.. aku maapin, bibir keriting~" jawab Yoochun.
"hiks.. Jidat lebar~~"
"hiks.. Bibir keriting~~"
"huaaaaa" mereka pun berpelukan sambil nangis gaje.

"Jun-chan, maaf aku sering mengejekmu duckbutt~" ujar Jiwoo.
"ga papa kok.. lagian aku bangga.." balas Junsu sambil nepok-nepok bokongnya.
". . . -__-"

Well, Changmin & Junsu fine" aja, Yoochun & Junsu fine" aja, Jiwoo & Yoochun? lebih dari baik~ kekeke
Sementara itu..
"Yunnie~hiks aku minta maaf soal tadi yah. terus.. aku janji deh ga bakal make kartu kreditmu diem-diem lagi.." Jaejoong memelas.
"ya Joongie.. maafin aku juga yah.. aku janji ga bakal ngorok n tidur mereng-mereng lagi" Yunho pun menghapus air mata Jaejoong dengan ibu jarinya dan mengecup Jaejoong sekilas.

Jiwoo: 'hooh! momen ini ga boleh terlewatkan!!' *jepret! jepret!*

"terus.. hukuman tadi ga jadi kan?" tanya Yunho berharap.
"ung.. ada syaratnya!" jawab Jaejoong sambil tersenyum jahil.
"apa?"
"me on top tonite~" Jaejoong pun ngeloyor pergi, sedangkan Yunho? nelen kapur barus.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ O W A R I ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

selamat lebaran!!

Minggu, 06 Februari 2011

Fanfic || more than a teacher || 1shoot part2 (end)

Di hari minggu seperti ini aku mencoba untuk refreshing pikiran dari beban2 pikiran disekolah. Sebenarnya aku sedikit tidak enak badan, aku orang yang tidak bisa tidur setelah mengetahui kalau nilaiku anjlok drastic.

“Ahh.. kenapa hawanya jadi dingin seperti ini? Aku lupa memakai jaket. Tapi ya sudahlah” gumamku sendiri. Aku membeli sekaleng minuman hangat dan meminumnya sambil duduk di sebuah bangku depan sebuah toko. Tak lama kemudian seseorang tampak mengambil tempat disebelahku. Aku tidak meliriknya, tapi terdengar suara yang sangat kukenal, sepertinya orang itu sedang menelpon.

“ya.. sudah kubeli. Tenang saja..”

Kemudian ia menutup telponnya. Aku pun melirik orang ini, dan.. hah?!

“yu..yunho sensei?”

“ng? hei.. lanh-chan! Kebetulan sekali!” ia pun membalas dengan senyum. Aku bertemu dengan bulan2anku di saat aku mau merilekskan pikiranku?!

“ya.. sangat kebetulan..” jawabku dengan muka masam. Tapi yang kulihat ia memalingkan wajahnya dan menundukkan kepalanya. Huft~ Ingin saja aku beranjak dari tempatku tapi tiba2 saja..

“sedang apa disini?” tanyanya

“tidak ada.. hanya merilekskan pikiran sejenak..” jawabku.

“di tempat ramai dan hari yang dingin seperti ini?”

“aku suka kok” jawabku tak peduli.

“sou desu ne..” ia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menghembuskan nafasnya sejenak.

“aku sudah harus kembali” katanya. Ya sudah, baguslah!! Ia pun berpamit dan melangkah pergi. Aku kembali menikmati minuman hangat ditanganku. Tapi kemudian mataku tertuju pada sesuatu di samping tempatku duduk. Sebuah zippo. aku mengambilnya dan membukanya. Saat dibuka, disisinya tampak sebuah gambar rasi bintang berbentuk huruf W. aku pernah melihatnya, kalau tidak salah Cassiopeia. Tapi.. milik siapa zippo ini? Sebelum yunho sensei duduk disini, ini tidak ada. Apa mungkin ini miliknya? “ceroboh sekali.” gumamku. Sebaiknya aku mengembalikannya. Mungkin ini benda yang berharga baginya.

Aku pun beranjak dari tempatku duduk. Aku mengikuti arah kemana yunho sensei berjalan tadi. Menelusuri di tengah kerumunan orang2 , sedikit melelahkan. Tapi syukurlah.. aku mendapati sosoknya didekat sebuah toko.

“sensei! Yunho sensei!” panggilku. Ia juga melihatku dengan tatapan heran. Akupun menghampirinya.

“ini.. apakah ini punya anda? Hosh..” aku memperlihatkan zippo itu padanya

“ah! Iya ini punyaku! Apa tadi tertinggal? Gomen, sudah merepotkan. Arigatou!”

“daijyobu.. hosh..hosh..” aku meletakkan zippo itu ditangannya.

“ano.. lanh-chan? Taijou ka? Tanganmu dingin sekali..” yunho sensei pun spontan cemas melihat keadaanku.

“ne, taijou desu..” kataku lemas.

“tanganmu dingin.. apa kau demam?” deg! Aku sontak kaget saat ia menggenggam kedua telapak tanganku yang sangat sensitive pada hawa dingin dan memegang keningku. Kenapa aku jadi deg2an begini?

“d,daijyobu..”

Yunho sensei langsung melepaskan mantel hangatnya dan memakaikannya padaku.

“kau ini.. sudah tau harinya dingin malah keluar rumah”

Wajahku memerah. I,ini benar2 yunho sensei yang menyebalkan itu? Kenapa?

“ini.. makanlah selagi hangat.” Ia pun menyodorkan bakpao hangat padaku. Saking groginya aku hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahku yang memerah tanpa bilang terimakasih.

“sebaiknya kau pulang. Biar kuantar.” Katanya lagi. Ia menarik sebelah tanganku dan berjalan menuju stasiun.

Sampai didalam kereta, aku masih diam seribu bahasa. Sampai akhirnya satu kata terucap dari mulutku.

“doumo arigatou..”

“ne.. sama2” jawabnya sambil tersenyum. Aku menatap senyumnya, kenapa kali ini rasanya beda? Ternyata kalau diperhatikan, senyum yunho sensei manis juga. Selain itu ia memang masih sangat muda dan tampan. Hey! Ada apa denganku ini?!

Ssshhh… kereta yang kami tumpangi pun sudah sampai di stasiun. Ia tetap menggandengku keluar dan mengantarku. Di perjalanan kami pun mengobrol.

“kau tau? zippo ini peninggalan seseorang yang sangat berharga, jadi untung saja tadi kau menemukannya..” jelasnya sambil berseri2.

“berharga? Dari siapa?” tanyaku penasaran.

“guruku dulu. Dia yang mengajarkan kedisiplinan padaku.” Jawabnya.

“uhmm..” aku mengangguk.

“ini.. kuberikan padamu saja.” Katanya tiba2. Hah?!

“bu, bukannya ini sangat berharga bagi sensei?”

“ya, tapi aku yang sekarang sudah menjadi seorang guru. Aku ingin memberikannya pada muridku”

“demo.. kenapa padaku?” tanyaku keheranan.

“yaa, supaya kau bisa meningkatkan nilai fisikamu! Bersemangatlah!” ujarnya sambil tersenyum.

“be, benarkah ini untukku?”

“ne!”

Wajahku kembali memerah. Inikah sifat asli dibalik semua keburukan yang selalu kupermasalahkan dari dirinya? Aku sangat senang. Tapi kenapa..rasanya perasaan ini sedikit berbeda? Ya, tidak sekedar senang. Apa aku..

“baiklah, aku antar kau sampai sini saja ya. Hati2lah!” ia menepuk pelan kepalaku kemudian ia pergi sambil melambai2. Rasanya berat ditinggalkannya. Perasaan ini semakin bergejolak.

*** disekolah ***

Aku kaget. Saat ini adalah pelajaran fisika, tapi kenapa yang muncul bukan yunho sensei? Kemana dia? Kenapa digantikan dengan guru lain?

“kau belum tau ya. Yunho-sensei kan sudah kembali ke Korea, dan memilih tinggal disana karena ada urusan keluarganya, kabarnya sih begitu” jelas changmin.

“ho, hontou ka?” kagetku.

“ne! kau pasti senang sekali ya?” tebakkan changmin salah besar. Aku benar2 kaget. Kembali ke korea?! Apa artinya dia tidak akan kemari lagi?

“lanh?” changmin melambaikan tangannya didepan wajahku.

Aku bangkit dari tempat dudukku dan beranjak keluar tanpa izin guru. Aku berlari dan berlari menuju tempat dimana ia memberikan zippo itu padaku. Aku terengah2 sambil memandangi zippo itu. Aku membukanya dan disisinya muncul gambar rasi Cassiopeia. Tanpa sadar, sesuatu yang mengalir keluar dari sudut mataku.

“doushite?!!” teriakku dalam tangis. Aku melihat kembali zippo itu, dan menggenggamnya didadaku. Semangat yunho-sensei akan selalu ada dan akan jadi motivasiku.

Yunho sensei..

Kau bukan hanya guru bagiku..

Tapi juga.. orang yang kucintai..



end

FanFic || more than a teacher || 1shoot part1

annyeong !!!!!!
haha.. lanh balik lagi membawa epep! nah, di hari ultah yunho gini lanh mau posting ff yang main cast'a lanh n yunho oppa, ga sengaja sih sebenernya. Cuz ff ni udah dirancang minggu lalu dan terinspirasi saat bengong sendirian di kelas,haha..
mian kalo gaje..
okeh check it!

title : More than a teacher
genre: teenager, 1shoot
main cast:
-Author a.k.a Lanh
-Yunho DBSK
-Changmin DBSK


NGIIIIING.. jam pelajaran Kimia sudah selesai. Habis ini sudah masuk jam fisika. Kepalaku serasa mau pecah menghadapi hari Rabu yang selalu penuh dengan pelajaran eksak. Terlebih, dulunya aku yang sangat senang dengan fisika kini merasa muak. Sensei yang mengajar kali ini sangat berbeda dengan yang dulu, membuatku jadi tidak suka pelajaran matematika.

“cara menerangkan Yunho-sensei terlalu cepat, sama sekali ga ngerti”

“yunho-sensei sangat tampan! Andaikan ia jadi pacarku..”

“kita tidak boleh banyak bertanya dan harus mandiri, memangnya kita anak kuliah apa?”

“kami suka Yunho sensei yang selalu buat kelas ini ramai, dia cukup kocak (?)”

Yah begitulah rata2 pendapat teman2 sekelasku. Sedangkan menurutku, yunho sensei adalah sensei yang buruk dan tidak bertanggungjawab terhadap murid2nya. Berkali2 sudah aku mengajukan hal ini ke kepala sekolah agar dia bisa secepatnya diganti!!

***

“kerjakan soal di halaman 209!” perintahnya. Ah bodo amat! Aku sama sekali tak mendengarkan ucapannya apalagi mengerjakan tugasnya. Memang sikapku ini seperti bunuh diri yang bisa membuat nilai fisikaku anjlok karena jarang mengerjakan tugas harian darinya. Tapi, memang aku sudah tidak suka dengannya dan pelajarannya, mana bisa aku memaksakan diri. Aku hanya duduk santai disudut kelas sambil mendengarkan music melalui headset sampai jam istirahat tiba.

NGIIIIING..

Yes! Jam pelajaran fisika sudah selesai, sekarang waktunya istirahat.

“well, bagaimana fisika hari ini?” tanyaku iseng pada Changmin temanku.

“Lanh-chan, Kau masih melakukan hal itu? Apa kau tau itu akan membahayakan nilaimu?” Changmin menggelengkan sedikit kepalanya.

“kau sendiri tau kan? Aku tak suka dengan yunho sensei” jawabku enteng.

“demo.. kau juga harus memikirkan nilaimu! Terima saja dia apa adanya, jangan terlalu memaksakan diri!” nasihat Changmin. aku hanya diam tidak berkomentar.

“ada PR dari materi yang diajarkannya hari ini, dan nilai tugas itu dianggap sebagai nilai ulangan kita” lanjut Changmin. sontak aku kaget.

“Nani?! Hontou ka??” kagetku.

“hai’, dikumpulkan besok pagi”

A, apa2an ini? Sebagai nilai ulangan? Dikumpul besok pagi? Materi hari ini???? Bukannya aku sama sekali tidak mendengarkan sedikit pun penjelasan darinya?

“ano.. Changmin~, bisa kau ajari aku? Plissssss” mohonku.

“no no.. kau rasakan sendiri akibatnya..” kata changmin sambil menggeleng.

“changmin~ ayolah.. sekali ini saja.”

“tapi bukannya kau..”

“iya!! Aku nyesel sama sikapku!! Ok?!” jawabku rada maksa.

“sou desu ka?” changmin menaikkan sebelah alisnya dan memastikan kata2ku.

“ne!”

“hmm, baiklah..”

“arigatou, Minnie-sensei~” Changmin yang baik selalu membantu dan pengertian. Beruntung aku punya sahabat sebaik dia.

***

“ahh! Susah sekali!” eluhku saat changmin mengajari materi yang tidak kusangka akan serumit itu.

“ganbatte! Sedikit lagi kau pasti paham!” changmin lalu melanjutkan penjelasannya. Sedikit terasa sesal juga karena tidak mendengar penjelasan dari yunho-sensei tadi. Coba aku dengarkan sedikit saja kalau pun changmin menjelaskan ulang seperti ini pasti akan langsung mengerti. Tapi aku sendiri tidak bisa mengendalikan emosiku yang meledak2 dan masih saja menuruti sikap keras kepalaku.

“coba kau kerjakan soal2 tugas itu dirumah dan banyak2lah latihan, pasti kau bisa! Shinjite!” changmin tidak lelah untuk selalu mendukungku yang selalu keras kepala ini.

“ne. mungkin aku sudah kelelehan jadi penjelasanmu tidak masuk ke otak seluruhnya. Tapi aku akan coba latihan dirumah. Doumo arigatou Minnie, ganbarimasu!!..”

Changmin mengangguk sambil tersenyum. Untung saja jam matematika adalah pelajaran terakhir, jadi saat pulang nanti aku bisa istirahat dan mengulang sedikit materinya.

***

Esoknya..

“changmiiiin!! Hosh..hosh..” aku berlari dan menabrak semua orang yang menghalangi jalanku dan tiba dikelas dengan nafas terengah2.

“doushite, lanh-chan?” changmin menghampiriku dengan khawatir.

“minnie.. aku belum menyiapkan tugas fisika. Otakku benar2 buntu! Aku tidak mendapatkan hasilnya! Lihat punyamu ya!” pintaku.

“demo.. punyaku sudah dikumpul, lagipula ini sudah bel dan sebentar lagi Miura-sensei akan segera masuk.” Changmin tampak ikut2an panik.

“soshite, gimana?” tak lama Miura-sensei pun masuk ke kelas dan memulai pelajarannya. Hingga saat jam pelajaran selesai aku langsung meminta pertolongan pada Changmin. akhirnya, setelah beberapa saat aku menyelesaikan tugas itu dan bergegas ke ruang guru untuk menyerahkannya pada yunho-sensei. Tapi betapa jengkelnya aku saat ia mengatakan..

“maaf tugasmu ditolak”

“hah??! Sensei! Aku sudah mengerjakannya susah payah!”

“dikumpul saat pagi, itu perjanjiannya kan?” jawabnya kali ini dengan senyum yang memuakkan bagiku.

“demo, sensei! Butuh waktu lama untukku mengerti semua isi materi, soal2 yang kau berikan juga sangat sulit!” aku tetap mempertahankan pendapatku.

“hmm, siapa suruh kau tidak mendengarkan materiku saat itu?” balasnya yang kini menatap kearahku. Pandangannya menerawang. Jadi .. Selama ini ia memperhatikanku?

“y,y,yaa.. soal itu gomenasai! Tapi tolonglah diterima!” aku kembali menyodorkan buku tugasku sambil membungkuk.

“ditolak..”

Aku mangangkat kepalaku “sou..ka?” kataku dengan ekspresi dan nada tidak senang.

“sou desu!” jawabnya dengan senyum itu lagi.

“sou desu ne?! jadi seperti inikah anda menghargai pekerjaan orang?! Baiklah!!” aku pun keluar dari ruangan dengan langkah kesal. Saat itu juga, hanya aku yang sama sekali tidak mendapatkan nilai ulangan. Benarkah perjanjiannya mengumpulkan tugas itu pagi2 tadi? Aku benar2 bodoh!!

***

to be continued....

Kamis, 20 Januari 2011

FanFict/Utakatta Hanabi/Anime Naruto/1shoot

author : Tessa
genre : romance, 1 shoot
pairing:
-haruno sakura
-uchiha sasuke
-uzumaki naruto

OST.Naruto 14

Supercell ft.nagi -Utakata Hanabi

Pantai sudah sepi. Tak ada lagi terdengar suara tawa anak-anak dan para penjaja dagangan yang tadi siang bertebaran sepanjang pantai, merasa sudah tak ada urusan lagi. Sebagai ganti, pantai sekarang dipenuhi dengan melodi alam. Deburan ombak, gemerisik daun yang hampir tak mungkin terdengar suaranya di kala siang dikarenakan suara anak-anak yang ribut mulai unjuk gigi. Ah..sungguh suasana yang sangat tenang ..

Alasan kenapa aku disini, aku tidak tahu. Tapi aku memang sedang sangat-sangat ingin ke tempat ini. Apakah aku sedang dipanggil dewa laut untuk dijadikan tumbal, aku tak tahu. Tapi kurasa bukan, andaikan aku disandera, itu pastilah sepasukan penyusup negara lain yang memiliki jurus rahasia. Kalau benar, mereka berarti bodoh, sudah siap mati ya rupanya? Dinginnya malam membuatku menggigil karena hanya mengenakan baju tidur terusan dan topi. “Hatchii!”

Aaah.. Apa sih yang sebenarnya ingin kulakukan? Bingung dengan pertanyaanku sendiri kakiku berjalan menyusuri pinggiran pantai, membiarkan ombak-ombak menggelitiki kakiku. Warna biru air yang cantik, berpantulkan cahaya bulan. Biru..itu mengingatkanku seseorang. Ini adalah warna rambut orang itu. Aku tersenyum kecil. Tanpa tersadar aku mencoba memutar balik waktu, saat aku bertemu dengan dia.

Saat pertama kali bertemu dengannya adalah ketika penerimaan murid baru. Waktu itu aku mendengar bahwa ada seorang cowok ganteng berbakat yang akan masuk ke kelasku. Langsung dia menjadi bahan gosipan cewek-cewek di kelas. Memang seberapa tampankah dia? Sekeren apa? Itu yang menjadi ganjalan hatiku, heran hanya karena seorang cowok saja sudah membuat keributan seperti ini. Lalu ketika bertemu dengannya langsung, barulah aku mengerti alasan dia begitu populer. Dia memang benar-benar keren! Dengan mata yang tajam, rambut hitam kebiruan, dan gayanya yang cuek, terlebih nilai-nilainya di akademik dan akademis! Langsung saja aku menjadi satu dari sekian cewek pengagumnya.

Oh ya, pernah ketika aku sedang duduk-duduk ditaman memikirkannya,dia menghampiriku! Katanya,’kamu memiliki dahi indah yang mempesona..’ kata-kata gombal itu membuat hatiku langsung melambung ke langit ke tujuh! Namun langsung terjatuh ke dasar neraka ketika dia mengatakan itu hanya bercanda. Alangkah bahagia kalau dia serius, tapi kebohongan ini saja sudah cukup membuat hatiku senang. Aku pura-pura masa bodoh. Kami pun melanjutkan percakapan dengan menahan diri untuk tidak mempermasalahkan candaan tadi. Tapi auranya yang ini berbeda, lebih gelap, akhir percakapan membuatku membuka sisi kemanusiaanku pada cowok lain, si rambut kuning penggemar ramen yang kuanggap menyebalkan.

Ada satu kejutan lagi, saat pembagian kelompok, Tuhan menunjukkan kebaikan hatinya dengan memasukkanku sekelompok dengannya. Tapi-sayangnya-bukan hanya dengan dia. Cowok rambut kuning yang kuanggap menyebalkan pun ikut. Namun aku teringat dengan kata-kata si rambut biru. Aku mencoba tersenyum dan berteman dengan si rambut kuning.

Bersama guru tercinta, kami banyak bertualang bersama. Inilah keluarga kedua selain dirumahku. Aku pikir akan tetap begitu, sehingga aku menangis banyak ketika tahu itu hanyalah impian semata.

Si rambut biru pergi meninggalkan kami. Tentu saja kami semua, yang menganggap diri sebagai satu keluarga merasa sangat terpukul . Terutama si rambut kuning, dia berusaha membawa kembali si rambut biru yang sangat kucintai. Tapi tidak berhasil. Perjuangannya yang pertama hanya membawa air mata dan persahabatan yang terputus. Ketika bingung dan depresi mengapa dia meninggalkan kami, aku teringat kata-katanya ketika pertama kali memperkenalkan diri ,’..lalu..aku punya ambisi! Kebangkitan klanku dan membunuh seorang pria!’

Lalu apa? Setelah membunuhnya apa yang akan kau lakukan?? Hanya demi membunuh seseorang pria yang entah dimana kau rela membunuh perasaan kami!?

Hhh..

Tak ada gunanya berkata begitu sekarang, toh si biru kepala batu itu tak akan mendengarnya.

Angin bertiup semakin kencang, mempermainkan helai-helai rambut merah mudaku yang kututupi topi. Oh ya, rasanya dulu, lama sekali aku pernah bersamanya ke pantai. Kalau tak salah untuk apa ya..?

“DHUAAAAAAARRRR!!!”

Cahaya kerlap-kerlip mewarnai hitamnya malam. Kembang api yang sungguh indah!

Ah? Kembang api?

Benar!

Waktu itu, tepat di tempat ini, dengan mata sedikit berbinar dan bibirnya melengkungkan senyum , dia memandangi kembang api. Dan aku memandangi wajahnya! Kenapa aku bisa melupakan hal penting ini?

Jadi inikah kenapa aku datang kemari? Karena diriku yang sangat rindu akan senyummu? Haha..

Sejujurnya, aku pernah berharap bisa membencimu, dan aku pernah-hampir- berhasil. Tapi di saat seperti ini aku pasti akan kembali mengingatmu, sebelum aku sempat mengingat logikaku terhadapmu.

Kembang api meletus sekali lagi..

Seakan gelombangnya memang terlalu besar hingga indahnya dapat menyusupi hatiku, topiku ikut terbang.

Ah..Sasuke..

Jika aku menutup mataku, aku merasa seperti kau berada disini sekarang...


end